teknik pengumpulan data

5 Sep

Pengantar

Metode ilmiah pada hakikatnya merupakan penggabungan antara berpikir secara deduktif dengan induktif. dalam metode ilmiah terdapat hipotesis atau dugaan sementara atau hasil sementara yang perlu diuji kebenarannya berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan di lapangan. Data-data tersebut dikumpulkan dengan berbagai teknik tertentu yang sering disebut sebagai teknik pengumpulan data. Selanjutnya data tersebut dianalisis dan disimpulkan secara induktif sehingga dapat diketahui apakah hipotesis itu ditolak atau diketahui.

Dalam dunia ilmiah dikenal sebuah semboyan yang mengatakan bahwa “Yakinlah orang secara logis dengan kerangka teoritis dan kerangka berpikir, serta buktikanlah secara empiris dengan pengumpulan data yang relevan”. Di bawah ini akan dibicarakan berbagai teknik pengumpulan data. Namun perlu dicatat disini bahwa masing-masing teknik itu tidak lain hanyalah semacam “tongkat”. Pengumpulan data lebih merupakan seni karena instrumen utama dari pengumpulan data adalah ketrampilan mengolah naluri dan kepekaan. Sehingga seorang peneliti dan orang yang meneliti kepekaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Pembahasan

Teknik pengumpulan data terdiri atas pengamatan (observation), wawancara (interview), angket (questionary), dan dokumentasi (dokumentation) (Susanto 2006 : 125). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengumpulan data dilakukan, yaitu skala data yang diperoleh, sumber data, cara pengumpulan data, dan jumlah data. Berdasar sumbernya, data dapat dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan informasi yang dikumpulkan peneliti langsung dari sumbernya. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan teknik pengamatan, wawancara, dan angket. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengumpul data. Sedangkan data sekunder adalah informasi yang telah dikumpulkan pihak lain. Teknik pengumpulannya dengan menggunakan teknik dokumentasi begitupun peneliti yang hanya bertindak sebagai peneliti data.

  1. A.  Observasi

Sugiyono mengatakan bahwa observasi sebagai metode pengumpul data mempunyai ciri yang spesifik bila di bandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara atau kuesioner. Kalau wawancara  dan  kuesioner  selalu  berkomunikasi  dengan  orang , maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek yang lain. Rahardjo  &  Gudnanto  (2011: 47)  menyatakan  bahwa  observasi adalah kegiatan pengamatan (secara inderawi) yang direncanakan, sistematis dan hasilnya di catat serta dimaknai (diintepretasikan) dalam rangka memperoleh pemahaman tentang objek yang diamati.

Dari kedua pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa observasi atau pengamatan adalah suatu kegiatan mengamati perilaku siswa secara nampak dan hasilnya di catat serta di interpretasikan guna memperoleh pemahaman tentang objek yang di amati.

Observasi merupakan proses yang kompleks, yang tersusun dari proses biologis dan psikologis. Dalam menggunakan teknik observasi yang penting ialah mengandalkan pengamatan dan ingatan peneliti. Beberapa petunjuk sebelum mengadakan observasi adalah pelajari dulu observasi itu, pelajari tujuan penelitian, buat cara mencatat yang sistematis, batasi tingkat kategori yang sistematis, lakukan observasi secara cermat dan kritis, catat setiap gejala menurut kategorinya, periksa alat bantunya, waktu yg tersedia, hubungan dengan pihak yg diobservasi, intensitas dan ekstensi partisipasi.

Jenis-jenis observasi antara lain adalah partisipasi lawannya non partisipasi, sistematis lawannya non sistematis. Observasi partisipasi adalah jika observer terlibat langsung secara aktif pada objek yang diteliti, sedangkan observasi nonpartisipasi keadaanya berkebalikan. Observasi sistematis ialah observasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu kerangkanya. Kerangka itu memuat faktor-faktor yang akan diobservasi menurut kategorinya.(Susanto 2006 : 126-127)

Dalam penelitian kualitatif observasi atau pengamatan dapat di manfaatkan sebesar-besarnya dengan alasan sebagai berikut:

  1. Teknik pengamatan ini di dasarkan atas pengalaman secara langsung
  2. Teknik observasi atau pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya
  3. Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data
  4. Sering terjadi ada keraguan peneliti, jangan-jangan pada data yang di jaringnya ada yang menceng atau bias.
  5. Teknik pengamatan atau observasi memungkinkan peneliti memahami situasi-situasi yang rumit
  6. Dalam kasus-kasus tertentu di mana teknik komunikasi lainnya tidak memungkinkan, pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat (Moleong, 2002: 125-126).

Observasi sebagai metode pengumpul data juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini di sampaikan oleh Surya (dalam Rahardjo & Susilo, 2011: 50-51) yang semuanya dapat di jelaskan sebagai berikut:

  • Observasi merupakan teknik yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh berbagai data berbagai aspek tingkah laku.
  • Bagi observer, hal ini lebih meringankan dibandingkan dengan apabila mereka disuruh mengisi angket atau menjawab pertanyaan
  • Teknik observasi memungkinkan di lakukan pencatatan yang serempak dengan terjadinya gejala atau kejadian penting
  • Observasi dapat merupakan teknik untuk mencek data yang diperoleh dengan teknik lain seperti wawancara, angket, kuesioner, dan sosiometri
  • Dengan observasi, observer tidak memerlukan bahasa verbal sebagai alat bantu memperoleh data
  • Dengan observasi dapat diperoleh data, gejala atau kejadian yang sebenarnya dan langsung.

Selain beberapa keuntungan sebagaimana tersebut di atas, observasi juga memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut:

  • Banyak hal yang tidak dapat diungkap dengan observasi, misalnya kehidupan pribadi yang bersifat rahasia.
  • Apabila siswa mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, mungkin sekali mereka melakukan kegiatan tidak wajar lagi (perilakunya dibuat-buat)
  • Observasi banyak tergantung pada faktor-faktor yang tidak terkontrol
  • Faktor subjektivitas observer sulit dihindari.
  1. B.  Wawancara

Wawancara adalah teknik penelitian dengan cara tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Maksudnya ialah proses memperoleh data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab tatap muka antara pewawancara dengan responden. Pewawancara disebut interviewer dan orang yang diwawancarai disebut interviewee (Susanto 2006 : 128 ).

Ciri umum dari kegiatan wawancara adalah :

  • Pewawancara dan responden belum pernah bertemu sebelumnya
  • Pewawancara selalu bertanya dan responden selalu menjawab pertanyaan dari pewawancara.
  • Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan pada suatu jawaban namun harus bersifat netral.
  • Pertanyaan harus selalu diikuti panduan yang telah disusun.

Jenis wawancara ada dua yaitu, wawancara tak terpimpin dan terpimpin (terstruktur). Wawancara tak terpimpin (tak terstruktur) adalah wawancara yang tidak terarah. Peneliti hanya menentukan topik dan tujuan yang ingin dicapai dari diadakannya wawancara itu, pertanyaan akan berkembang dalam proses wawancara itu sendiri. Keuntungannya cocok untuk penelitian pendahuluan, tidak memerlukan ketrampilan bertanya dan dapat memelihara kewajaran suasana. Kelemahannya tidak efisien waktu, biaya, dan tenaga.

Wawancara terpimpin (terstruktur) adalah tanya jawab terarah dan terfokus untuk mengumpulkan data-data yang relevan saja. Biasanya akan menggunakan pedoman wawancara yang memuat hal-hal yang akan ditanya secara terinci,sehubungan dengan pengumpulan informasi tentang topik penelitiannya. Keuntungan teknik ini adalah pertanyaan sistematis sehingga mudah diolah kembali, pemecahan masalah lebih mudah, memungkinkan analisis kuantitatif dan kualitatif, dan simpulan yang diperoleh lebih reliabel. Sedangkan kelemahannya adalah kesan-kesan seperti angket yang diucapkan, suasana menjadi kaku dan formal (Susanto 2006 : 131).

Beberapa teknik wawancara yang dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut (Cooper& Schindler, 2006:241-250):

v  Wawancara mendalam individu (individual depth interview/IDI)
Merupakan interaksi antara peneliti (pewawancara) dengan seseorang peserta tunggal. Wawancara mendalam individu biasanya membutuhkan waktu antara 20 menit (melalui telepon) sampai 2 jam (wawancara tatap muka), tergantung pada isu atau topik yang dibahas. Wawancara mendalam individu biasanya direkam (audio dan atau video) dan kemudian diterjemahkan sehingga memberikan rincian informasi yang kaya bagi peneliti. Informan yang dipilih sebagai peserta wawancara dipilih bukan karena opini mereka mewakili opini umum tetapi karena pengalaman serta sikap mereka mencerminkan keseluruhan cakupan isu yang sedang dipelajari. Selain itu informan yang diwawancara memiliki kemampuan verbal agar dapat memperkaya rincian informasi yang dinginkan peneliti.

v  Wawancara Kelompok adalah metode pengumpulan data dengan mengunakan lebih dari satu informan (peserta). Wawancara kelompok dapat dilakukan dengan beberapa ukuran kelompok:

  • Ø Dyad (2 oarang)
  • Ø Triad (3 orang)
  • Ø Kelompok mini (2 hingga 6 orang)
  • Ø Kelompok kecil (kelompok fokus 6 � 10 orang)
  • Ø Kelompok super (hingga 20 orang)

Dalam wawancara kelompok, jumlah dan komposisi kelompok ditentukan dengan mempertimbangkan:

  • Cakupan isu yang diteliti. Semakin lebar isu, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.
  • Jumlah segmen pasar yang berbeda: semakin banyak jumlahnya dan semakin besar perbedaannya, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.
  • Jumlah ide baru atau pemahaman yang diinginkan: semakin besar jumlah, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.
  • Tingkat perincian informasi: semakin rinci semakin banyak kelompok dibutuhkan.
  • Tingkat perbedaan geografis atau etnis pada sifat atau perilaku: semakin besar pengaruhnya, semakin banyak kelompok dibutuhkan.
  • Homogenitas kelompok: semakin tidak homogen, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.

Keuntungan teknik pengumpulan data dengan wawancara adalah (1)salah satu teknik terbaik untuk mendapatkan data pribadi, (2)tidak terbatas pada tingkat pendidikan asalkan informan dapat berbicara dengan baik, (3)dapat dijadikan pelengkap teknik pengumpulan data lainnya, dan (4)sebagai penguji terhadap data-data yang didapat dengan teknik pengumpulan data lainnya.

Namun teknik wawancara juga memiliki kelemahan yaitu (1)pembicara harus pandai dalam berbicara yang baik dan benar, (2)waktu, tenaga, biaya tidak efisien, (3)sangat tergantung pada ketersediaan interviewee, (4)proses wawancara sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan, dan (5)untuk obyek yang luas diperlukan interviewer yang banyak.

  1. C.  Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang dikirimkan kepada responden baik secara langsung atau tidak langsung (melalui pos atau perantara). Pertanyaan pada angket, bisa tertutup yang telah tersedia alternatif jawabannya dan bisa juga terbuka yang belum tersedia jawabannya, responden memformulasikan sendiri jawabannya. Angket yang dibuat harus dapat memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian dan informasi harus reliabel dan valid.

Kemukakan isi pertanyaan dalam kalimat yang mudah dijawab informan karena yang ditanyakan adalah hal-hal sudah melekat pada diri informan seperti :

  1. Identitas          : tempat tinggal, keluarga, asal daerah, dan lain-lain.
  2. Pengalaman     : aktivitas sehari-hari, pengalaman pekerjaan, dan lain-lain.
  3. Pengetahuan    : sesuatu yang paling diketahui tentang peristiwa, fakta, informasi tertentu, dan lain-lain.
  4. Pandangan      : pendapat, persepsi, pemikiran, dan lain-lain.
  5. Perasaan          : pengalaman menyenangkan, tidak menyenangkan, jengkel, optimis, dan lain-lain.
  6. Pengalaman penginderaan : melihat, mendengarkan tentang sesuatu peristiwa, dan lain-lain.

Angket atau kuesioner menurut Suharsimi Arikunto (2006: 152) dapat dibeda-bedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya. Angket dipandang dari cara menjawab, maka ada kuesioner terbuka, yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri dan kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Angket dipandang dari jawaban yang diberikan yaitu kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya dan kuesioner tidak langsung, jika responden menjawab tentang orang lain.

Angket dipandang dari bentuknya yaitu kuesioner pilihan ganda atau yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup, kuesioner isian atau yang dimaksud adalah koesioner terbuka, Check list atau sebuah daftar dimana responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom yang sesuai, Rating-scale (skala bertingkah), yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkat-tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju.

Kelebihan menggunakan teknik angket antara lain, dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirim melalui pos, biaya membuat angket relatif murah, tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri. Namun teknik ini memiliki kelemahan yaitu, Karena dikirim melalui pos, persentase pengembalian angket relatif rendah, Pertanyaan dalam angket dapat salah ditafsirkan dan tidak ada kesempatan mendapatkan penjelasan, Tidak dapat digunakan bagi responden yang kurang bisa membaca dan menulis, atau memiliki tingkat pendidikan yang kurang memadai.

  1. D.  Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen – dokumen. Dalam pengertian lain, dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya. Dokumen dapat dibedakan menjadi, dokumen primer yang merupakan dokumen ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa. Sebagai contoh adalah autobiografi. Dan juga dokumen sekunder, yang merupakan peristiwa dilaporkan pada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang ini. Contohnya adalah biografi. Data – data yang terkumpul dari teknik ini merupakan data sekunder berbeda dengan data yang terkumpul dari hasil observasi, wawancara, dan angket yang merupakan data primer.

Data sekunder juga bisa diperoleh dari BPS, departemen atau direktorat jenderal terkait. Penyusunan form dokumentasi perlu dilakukan, supaya data dari suatu sumber atau dokumen bisa dikumpulkan secara ‘terseleksi’ sesuai dengan keperluan peneliti. Hal itu dilakukan agar peneliti mudah untuk mencatat data tertentu yang diperlukan pada form yang telah disiapkan karena dengan itu pencatatan dokumen bisa lebih sistematis dan terfokus.

Keuntungan menggunakan teknik dokumentasi antara lain, Merupakan cara tepat untuk subjek penelitian yang sukar atau sulit dijangkau, takreaktif atau data yang diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpul data, cara yang terbaik untuk kasus yang bersifat longitudinal, khususnya yang menjangkau ke masa lalu, teknik ini memungkinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar karena biaya yang diperlukan relatif kecil.

Selain kelebihan, kelemahan dari teknik ini adalah Karena dokumen yang dibuat bukan untuk keperluan penelitian, data yang tersedia mungkin bias, Catatan tentang orang ternama mungkin disimpan dengan baik, tetapi catatan tentang orang biasa tidak selalu, bahkan tidak ada (tersedia secara selektif), Karena dokumen ditulis bukan untuk penelitian, mungkin data yang tersedia tidak lengkap / tidak tercatat pada dokumen, Format dokumen dapat bermacam-macam sehingga bisa mempersulit pengumpulan data dan sukar memberikan kode pada data.

  1. E.  Analisa Data Penelitian Kuantitatif

Untuk penelitian kuantitatif pengumpulan data pada umumnya menggunakan angket. Angket ini bisa langsung ditanyakan oleh pengumpul data, bisa juga menggunakan jasa pos, terakhir sekarang menggunakan email. Dalam penyusunan angket ini berkaitan erat dengan bentuk permasalahan penelitian, tujuan penelitian, variabel penelitian, defisiensi operasional variabel, indikator variabelm, model pertanyaan penelitian. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut.

Dalam analisis data kuantitatif, apa yang dimaksud dengan mudah dimengerti dan pola umum itu terwakili dalam bentuk simbol-simbol statistik, yang dikenal dengan istilah notasi, variasi, dan koefisien. Seperti rata-rata ( u = miu), jumlah (E = sigma), taraf signifikansi (a = alpha), koefisien korelasi (p = rho), dan sebagainya. Dalam menganalisa data penelitian strukturalistik (kuantitatif) hendaknya konsisten dengan paradigma, teori dan metode yang dipakai dalam penelitian. Ada perbedaan analisa data dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, analisa data yang dilakukan secara kronologis setelah data selesai dikumpulkan semua dan biasanya diolah dan dianalisis dengan secaracomputerized berdasarkan metode analisi data yang telah ditetapkan dalam desain penelitian.

  1. F.   Analisa Data Penelitian Kualitatif

Teknik pengumpulan data seperti ini berbeda dengan penelitian kuantitatif. Pengumpulan data pada teknik ini pada umumnya langsung mengadakan analisis saat begitu mendapatkan data. Oleh sebab itu, dalam laporan penelitian kualitatif pada umumnya laporan dan pembahasan menjadi satu. Perlu diingat bahwa banyak penelitian yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Bentuk penggabungan ini dilakukan pada saat melihat hubungan antarvariabel menggunakan model kuantitatif , sedangkan saat tahap analisis hasil menggunakan model  kualitatif.

Pada awal dekade 90-an telah berkembang satu cara observasi langsung model laboratorium. Caranya ialah mengalihkan indikator variabel ke dalam suatu lembar observasi. Fenomena yang diamati akan ditulis dengan ketat dalam bahasa yang ringkas dan padat, kemudian alternatif jawaban penelitian hanya tinggal memberi kode tertentu, jika peristiwa itu terjadi. Bila gagal atau tidak terjadi maka kode yang digunakan akan berbeda atau diganti.

Analisis data penelitian kuantitatif dilakukan diakhir pengumpulan data dengan menggunakan perhitungan statistik, sedang penelitian kualitatif analisis datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan cara ‘mengangsur atau menabung’ informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya sampai akhir memberi interpretasi (Hamidi, 2004 : 16 ).

Untuk lebih jelasnya analisis data ini dapt diungkapkan dengan tiga proses, yaitu, pertama, pada penelitian kualitatif, peneliti setiap harinya dapat memperoleh banyak data, baik dari wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Setelah itu dilakukan reduksi data yang berarti data hasil rekaman atau ‘catatan – catatan lapangan’ tersebut dirangkum, diseleksi lalu masing – masing dimasukkan pada kategori yang sama, fokus yang sama, dan permasalahan yang sama.

Proses kedua,  selain melakukan reduksi data juga diperlukan kegiatan display data, yaitu penyajian data ke dalam sejumlah matriks yang sesuai, misal matriks ukuran waktu yang menonjolkan kronologis suatu program, matriks jalinan pengaruh mempengaruhi antar faktor atau komponen dalam suatu kegiatan atau peristiwa, dan lain-lain. Proses ketiga , muara dari seluruh kegiatan analisis data terletak pada penggambaran atau penuturan tentang apa yang berhasil kita mengerti berkenaan dengan sesuatu masalah yang diteliti, dari sini lah lahir simpulan – simpulan yang bobotnya tergolong koprehensif mendalam.

Namun dalam ini semua tergantung pada kemampuan peneliti (1) merinci fokus permasalahan yang benar menjadi pusat perhatian untuk ditelaah secara mendalam, (2) melacak, mencatat, mengorganisasikan setiap data yang relevan untuk setiap permasalahan yang ditelaah, (3) menyatakan apa yang dimengertinya secara bulat tentang suatu masalah yang diteliti, terutama memakai “bahasa kualitatif” yang deskriptif dan interpretatif sifatnya (Miles & Huberman, 1992 : 15-21).

DAFTAR PUSTAKA

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: