Matinya Ideologi Daniel Bell

14 Jun

Daniel Bell termasuk salah satu dari intelektual Amerika yang tidak puas dengan cara penggambaran orang-orang eropa terhadap Amerika. Menurutnya ketidaklengkapan banyak teori sosial yang memotret Amerika disebabkan gagasan aplikatif yang tanpa kritik dari Sosiologi Eropa atas perbedaan pengalaman yang besar dengan kehidupan masyarakat Amerika. Hal ini nampak pada teori massa , sebuah konsep yang menjadi (seperti kata Bell) tema ilusi aristokratik dan radikal dari kehidupan Amerika, dan melihat politik Amerika dalam istilah-istilah yang jarang digunakan. Kekeliruan semacam itu tidak hanya gagal menjelaskan perubahan sosial Amerika, tapi juga membawa implikasi dalam penginterpretasian kelanjutan proses perkembangan masyarakat industry dengan demokrasi sebagai tulang punggung yang member kewenangan pada individu seluas-luasnya untuk berperan dalam politik.

Menurut Bell, sumber dari pengaruh perubahan sosial itu secara keseluruhan berbeda dengan decade 30-an yang lebih berhubungan dengan persoalan domestik, melainkan disebabkan oleh kejadian-kejadian internasional pada decade 50-60-an seperti dalam hal ini kaitan perang dingin yang dipiciu interaksi perlombaan senjata dengan pertikaian ideologis terutama kapitalisme melawan sosialisme.

Mengenai ideologi, Bell menganggap bahwa analisis tentang ideologi berkaitan dengan perdebatan intelektual yang juga bersifat filosofis. Ia mengajukan alasan dengan member contoh ketika seseorang sering mengaitkan kata umat dengan suatu agama sedangkan intelektual dengan suatu ideologi. Hal semacam ini menurutnya memberi bukti bagaimana kata ideologi dalam pemakaian aktifitas intelektual yang sangat luas menjadi sarat makna dan dipakai dalam berbagai fungsi. Upaya menurut secara historis konsep ideologi berguna untuk mengetahui secara tepat perbedaan makna dalam pikiran para tokoh pemikir yang berkaitan dengan situasi aktual di jamannya karena itu tidak hanya dimaknai secara berbeda namun kadang-kadang juga bertolak belakang. Secara filosofis, perunutan secara historis dapat membantu mengetahui proses perkembangan gagasan ideologi dari satu pikiran tokoh ke pikiran tokoh yang lain, seperti halnya yang dilakukan Bell dalam karyanya The End of Ideology.

Dalam karyanya The End of Ideology, Bell membagi menjadi 3 bagian. Bagian yang pertama berisi kritik dan analisa Bell atas beberapa pendekatan yang keliru terhadap masyarakat Amerika. Dalam kritiknya terhadap Teori Masyarakat Massa, Bell berpretensi untuk menunjukkan bagaimana sejumlah teori tentang Amerika menyajikan penggambaran yang tidak utuh. Selain itu, teori masyarakat massa dianggap tidak dapat memeriksa masyarakat Amerika secara tepat, karena Urbanisasi, Industrialisasi, dan demokrasi telah menceraikan ikatan lama masyarakat ke dalam bentuk yang belum terjadi sebelumnya. Bell juga menjelaskan bahwa masyarakat Amerika memang telah “teratomisasi”, namun mereka sekaligus me-ngembangkan rasa kepedulian sosial. Secara induktif, sikap kritis ini simetris dengan keyakinannya bahwa tidak ada ideologi yang benar dalam banyak wilayah, layaknya manusia yang pasti punya “dosa”.

Bagian kedua, ia lebih menyorot pada kompleksitas kehidupan masyarakat Amerika yang sering disebut sebagai kapitalisme proletariat. Dalam masalah itu, Bell melakukan pembedaan dalam serikat dagang Amerika. Pertama dalam kemun-culannya sebagai gerakan sosial, dan kedua sebagai kekuatan ekonomi (market unionism). Seperti telah diketahui, gerakan sosial merupakan sebuah konsepsi ideologi yang melihat buruh sebagai bagian dari sejarah penentangan terhadap tatanan mapan. Sedangkan Market Unionism merupakan suatu konsepsi ekonomi, suatu pembatasan tugas dan fungsi yang dipengaruhi oleh realita dan lingkungan industry yang khusus dimana union itu berada. Di Amerika serikat dagang sebagai sebuah gerakan sosial yang memiliki fungsi unik, yang lebih sering dikenal sebagai “Laborisme”. Laborisme beranggapan bahwa gerakan serikat dagang, meski bersifat ideologis, dan memiliki perbedaan sumber kohesi bila dibandingkan dengan gerakan radikal. Dalam gerakan ini, terdapat pembagian kekuasaan, seperti kekuasaan dalampabrik yang meliputi tawar menawar upah dan kondisi kerja, dan dalam masyarakat, seperti pembentukan peraturan bagi kesejahteraan buruh.

Dan dalam bagian ketiga, Bell memaparkan tentang habisnya Utopia dari kegagalan sosialisme Amerika. Dalam argumentasi Bell, kegagalan sosialisme di Amerika berakar pada ketidakmampuan menyelesaikan dilema dasar antara etika dan politik. Sifat dari gerakan sosialis yang “terkunci” logika sendiri, menyebabkan mereka tak bisa berkompromi terhadap kapitalisme dan membuat gerakan itu dapat dengan mudah dirusak oleh gerakan keagamaan seperti Lutherianisme yang condong “hidup di” bukan “dari dunia”. Mood politik pada tahun 30-an sampai 50-an yang menimbulkan depresi besar ekonomi dunia, munculnya fasisme dan imperialism di Negara yang kebudayaannya maju, proklamir manusia ideal, perang yang hebat, dan pembunuhan birokratis terhadap jutaan orang membuat Bell memberikan kesimpulan bahwa berakhirlah harapan-harapan agung, pikran sorgawi, serta ideologi itu sendiri (The End of Sociology) yang dikunci dengan konsep bahwa ideologi telah berakhir di Barat.

 

Daftar Pustaka

Bell, Daniel. 2001. Matinya Ideologi.

Fungsionalisme Struktural Taraf Menengah

14 Jun

Robert King Merton atau sering disebut Robert K Merton merupakan seorang murid Talcott Parsons ketika dia berkuliah di Havard. Merton merupakan murid setia dari Parsons, namun tidak semua yang dikatakan Parsons diterima begitu saja. Dia menambahkan atau melengkapi teori-teori Parsons dengan teori-teorinya sendiri. Salah satu hal yang membedakan antara Robert K Merton dengan Talcott Parsons adalah keputusannya meninggalkan usaha guna menyusun teori-teori besar yang bersifat umum, yang lebih suka disebutnya sebagai “Teori Taraf Menengah”. Teori ini merupakan hasil reduksi dari teori fungsionalisme struktural yang dipelopori oleh Talcott Parsons. Teori tersebut berisi asumsi-asumsi yang dapat ditarik hipotesanya kemudian diuji secara empiris dengan menggunakan data. Dalam pembangunan teori ini, Robert K. Merton berpegang pada dua teori besar yaitu Teori Suicide dari Emile Durkheim dan Teori The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism.

Meski Parsons dan Merton dikaitkan dengan fungsionalisme struktural, namun ada perbedaan penting antar keduanya yaitu penganjuran penciptaan teori besar dan luas cakupannya oleh Parsons, dengan penganjuran penciptaan teori kecil dan bertaraf menengah oleh Merton. Sebenarnya Merton dan beberapa muridnya (terutama Alvin Gouldner) dapat dipandang sebagai orang yang mendorong fung-sionalisme struktural yang lebih condong ke kiri secara politis, karena dalam hal ini Merton menyukai Teori Marxian.

Dalam Model Struktural Fungsional, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh Malinowski dan Radcliffe Bron. Pertama adalah postulat tentang kesatuan fungsional masyarakat yang berpendirian bahwa semua keyakinan dan praktik kultural sosial yang baku adalah fungsional untuk masyarakat sebagai satu kesatuan maupun untuk individu dan masyarakat. Postulat kedua adalah fungsionalisme universal yang berarti bahwa seluruh bentuk kultur sosial dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif, contohnya Nasionalisme fanatik yang dapat menjadi tidak fungsional dalam dunia yang me-ngembangkan senjata nuklir. Postulat ketiga adalah postulat tentang indispensability yang berargumen bahwa semua aspek masyarakat yang sudah baku tidak hanya mempunyai fungsi positif, tapi juga mencerminkan bagian yang sangat diperlukan untuk berfungsinya masyarakat sebagai satu kesatuan.

Selain mengembangkan Teori Taraf Menengah, Robert K Merton juga me-lengkapi analisanya dengan beberapa pokok pikiran baru yaitu tentang disfungsi, fungsi yang tampak (manifest function), fungsi tidak tampak (latent function), dan role-set (perangkat peran). Fungsionalisme di semua institusi banyak dikritik karena terdapat hal-hal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, contohnya dalam birokrasi, secara umum birokrasi berfungsi baik sekali dalam suatu masyarakat industri dimana seseorang ditempatkan sesuai bakat dan kemampuannya. Namun, Merton sadar bahwa akan ada bahaya jika ketaatan pada aturan birokrasi menjadi tujuan dan bukan alat untuk mencapai tujuan.

Pembedaan yang dibuat Merton tentang fungsi yang tampak dan tidak tampak lebih jauh memperjelas analisa fungsional dan mengimbangi teori fungsionalisme Parsons. Menurut Merton, fungsi didefinisikan sebagai. “konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem ter-tentu” (1949 / 1968:105).[1] Fungsi yang tampak adalah konsekuensi- konsekuensi atau akibat-akibat yang orang harapkan dari suatu tindakan sosial atau situasi sosial. Sedangkan fungsi yang tidak tampak adalah konsekuensi atau akibat yang tidak diharapkan ataupun tidak dimaksudkan.[2] Tetapi ada dua tipe lain akibat yang tidak diharapkan: “Disfungsional untuk sistem tertentu dari disfungsi tersembunyi” dan “yang tak relevan dengan sistem yang dipengaruhinya, baik fungsional maupun disfungsional..atau konsekuensi nonfungsionalnya” (Merton, 1949/1968:105).

Dalam mengembangkan perangkat peran, Merton mencetuskan sebuah kata yang disebut Perangkat Peran atau Role Set. Konsep ini merupakan hasil pe-ngembangan konsep Linton yang mengenalkan bahwa setiap status bukan saja me-miliki satu peran melainkan sejumlah peran. Sedangkan, pengertian perangkat peran itu sendiri adalah kelengkapan dari hubungan-hubungan berdasarkan peran yang dimiliki oleh orang karena menduduki status-status sosial khusus. Menurut Merton, status yang dimiliki setiap individu adalah bermacam-macam begitu pula peran yang dimiliki juga bermacam-macam. Peranan yang banyak itu dinamakan “role-set”, sedangkan status yang banyak itu dinamakan “status-set”. Sebagai seorang fung-sionalis, Merton melihat role-set sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan mempertahankan keteraturan tersebut.

Beberapa penganut teori sosiologi yang menyetujui bahwa kritik itu dapat dijustifikasikan dengan cara menentang terhadap bentuk kasar kaum fungsionalisme tradisional, akan mempertahankan revisi yang popular dari Robert K Merton tentang anggapan dasar dan konsep kaum fungsionalis meskipun revisinya tetap tidak mampu menjauhi kekurangan dan kebiasaan kaum fungsional.

 

Daftar Pustaka

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustaka

Zeitlin, Irvin. 1995. Memahami Kembali Sosilogi. Jogjakarta : UGM Press

 

[1] Dikutip dari George Ritzer, 2012, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana, hlm 139

[2] Dikutip dari Bernard Raho, 2007, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Prestasi Pustaka, hlm 65

Konsep Kekuasaan Teori Pertukaran Peter M. Blau

14 Jun

George C. Homans dan Peter M. Blau merupakan seorang pemikir yang memberikan sumbangan pemikiran sosiologis yang paling terkenal pada teori pertukaran sosial. Walaupun Blau terlihat menerima banyak psikologi-perilaku dari Homans sebagai dasar karyanya, tapi dari pengamatan yang mendalam bahwa perbedaan antara mereka jauh lebih besar daripada kesamaan yang terlihat di permukaan. Blau juga berusaha mengembangkan sebuah teori yang menggabungkan tingkah laku sosial dasar manusia dengan struktur masyarakat yang lebih luas, yakni antara kelompok, organisasi atau Negara.

Konsep Blau mengenai pertukaran sosial terbatas kepada tingkah laku yang menghasilkan ganjaran atau imbalan, yang artinya tingkah laku akan berhenti bila pelaku tersebut berasumsi bahwa dia tidak akan mendapat imbalan lagi. Blau menyatakan bahwa terjadi tarik menarik yang mendasar antara pelaku-pelaku sosial tersebut yang menyebabkan terjadinya teori pertukaran sosial, dan dia menggunakan paradigma yang terdapat dalam karya Homans untuk menjelaskan mengenai ketimpangan kekuasaan. Ketimpangan kekuasaan terjadi karena ketidakseimbangan ganjaran yang diberikan antara pihak satu dengan pihak lain. Blau mengatakan bahwa ‘sementara yang lain dapat diganjar dengan cara yang memadai melalui pengungkapan kepuasan telah menolongnya, maka pihak yang ditolong itu tidak harus memaksa dirinya dan menghabiskan waktunya untuk membahas pertolongan dari penolongnya’.[1]

Menurut Blau, banyak orang tertarik pada satu sama lain karena banyak alasan yang memungkinkan mereka membangun sebuah asosiasi sosial atau sebuah organisasi sosial. Begitu ikatan awal sudah terbentuk maka ganjaran yang mereka berikan kepada sesamanya dapat berfungsi untuk mempertahankan dan menguatkan ikatan itu. Namun dibalik itu, ganjaran yang tidak seimbang juga dapat memperlemah atau bahkan menghancurkan asosiasi itu sendiri yang akan melahirkan sebuah eksploitasi kekuasaan. Ganjaran yang dimaksud dalam ini pertama adalah ganjaran yang bersifat Intrinsik, seperti cinta, kasih sayang, afeksi, dan lain-lain. Ganjaran yang kedua adalah ganjaran yang bersifat ekstrinsik, seperti uang, barang, dan bahan material lainnya, karena setiap kelompok tidak dapat memberikan ganjaran secara seimbang, maka disitulah ketimpangan kekuasaan terjadi.

Blau menekankan tentang adanya perbedaan yang mendasar antara jenis dua bentuk pertukaran, yakni dunia mikro dan dunia makro yang kemudian digarisbawahi tentang ketidakseimbangan kekuasaan yang menyebakan terjadinya pembagian tugas. Misal, pihak pertama membutuhkan jasa pihak kedua, dan pihak kedua tidak mem-berikan bantuan sebagaimana mestinya maka pihak pertama akan memiliki tiga alter-natif pilihan, antara lain pihak pertama akan menekan pihak kedua untuk memberikan bantuannya, lalu pihak pertama akan mencari bantuan agar mendapatkan bantuan dari pihak yang lain, dan pihak pertama akan berusaha semaksimal mungkin dengan ber-bagai cara walau tanpa bantuan dari pihak manapun. Namun, bila semua pilihan itu tidak juga berhasil, maka pihak pertama hanya memiliki satu pilihan terakhir, yaitu menyerahkan diri kepada pihak yang mampu memberikan bantuan kepada pihak pertama tersebut yang akhirnya dapat menimbulkan sebuah perbedaan antara pihak-pihak yang memberi bantuan dengan pihak-pihak yang diberikan bantuan dengan persentase kekuasaan terbesar ada pada pihak yang memberi bantuan.

Dalam masyarakat luas, ketiadaan interaksi secara langsung antara anggota-anggota asosiasi menyebabkan harus dibuatnya sebuah sarana atau mekanisme yang menengahi atau mengantarai interaksi mereka. Menurut Blau, sarana atau meka-nisme yang tepat adalah norma–norma dan nilai–nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.[2] Norma dalam hal ini digunakan sebagai alat tukar yang menggantikan pertukaran secara tidak langsung menjadi pertukaran yang langsung, seperti yang dilakukan oleh seseorang dalam masyarakat, dia harus melakukan konformitas[3] agar ia mendapat pengakuan dari masyarakat. Bila norma digunakan sebagai sarana pertukaran antara individu dengan masyarakat, maka nilai digunakan sebagai alat pertukaran antara kelompok dengan kelompok, dalam contoh negative sepert halnya suporter sepak bola, bila di kandang lawan mereka mendapat respon yang buruk maka hal itu juga akan terjadi saat suporter lawan bertandang ke markas mereka.

Blau mendefinisikan 4 tipe dasar nilai, yaitu nilai yang bersifat khusus sebagai media untuk berintegrasi dan solidaritas, dan berfungsi menyatukan kelompok ke dalam, kedua yaitu nilai yang bersifat universal, dan berstandard umum untuk terjadinya pertukaran secara tidak langsung dan memunculkan adanya imbalan yang seimbang, ketiga yaitu nilai yang melegitimasi otoritas yang berfungsi sebagai alat control sosial, dan nilai yang bersifat oposisi yang menginginkan sebuah kemajuan yang lebih efektif dengan cara kontak pribadi atau dengan orang-orang untuk melawan kemapanan yang sudah ada.

Pada intinya, konsep yang diungkapkan Blau membawa kita jauh dari teori pertukaran Homans yang menitikberatkan hubungan tingkah laku individu. Blau menggunakan istilah masyarakat, kelompok, norma-norma, dan nilai-nilai untuk menjelaskan masalah apa yang dapat membagi dan mempersatukan masyarakat dengan bertolak pada keprihatinan yang ada dalam paradigma fakta sosial yang telah dibahas dalam teori fungsionalisme struktural.

 

 

Daftar Pustaka

Zeitlin, Irving. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta : UGM Press

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustaka

footnote :

[1] Irving M. Zeitlin, Memahami Kembali Sosiologi, Yogyakarta : UGM Press, 1995, hlm 121.

[2] Bernard Raho, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Prestasi Pustaka, 2007, hlm 180.

[3] Konformitas adalah kesesuaian atau adaptasi yang berbentuk penyesuaian diri terhadap norma dan nilai.

Neoliberalisme menuju sebuah dunia baru

1 Mar

Neoliberalisme muncul disaat globalisasi semakin merajalela di hampir seluruh penjuru dunia. Paham ini tidak menyukai adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan menjadikan pasar sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan program-program pembangunan. Disini, “pasar”, “deregulasi” , “debirokratisasi” , dan “privatisasi” dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi berbagai masalah sosial-ekonomi sekaligus mengejar pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Neoliberalisme juga muncul sebagai perwujudan baru dari paham liberalisme yang saat ini dapat dikatakan telah menguasai sistem perekonomian dunia.
Sebelumnya, proyek liberalisme global berangan-angan bahwa merupakan suatu hal yang mungkin untuk menjadikan manajemen masyarakat sebagai pasar ekonomi. Angan-angan ini dapat terwujud karena pasar yang diregulasi akan menghasilkan keseimbangan permintaan dan penawaran yang stabil serta terjadi keseimbangan general ini akan efektif dan optimal secara sosial. Pengaruh pemikiran ekonomi konvensional menyatakan bahwa bentuk manajemen sosial seperti ini merupakan bentuk yang rasional yang dapat menghasilkan kehidupan-kehidupan yang terbaik di dunia. Dalam hal ini liberalisme hanyalah sebagai utopia kapital yang berarti mimpi dari sebuah penguasaan modal para kapitalis.
Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara Liberal Klasik dengan Neoliberal. Dalam Liberal Klasik, mengharapkan agar pasar menjadi cara terbaik untuk mengatur jalannya perekonomian, sedangkan kubu Neoliberal mendesak agar pasar dijadikan sebagai satu-satunya cara untuk mengatur jalannya perekonomian sekaligus sebagai tolak ukur atas kegagalan maupun keberhasilan dari kebijakan pemerintah. Abba P. Lerner berkomentar, ”Ilmu ekonomi aliran utama (Liberalisme dan Neoliberalisme) telah memecahkan sebuah masalah besar: mengganti suatu proses politik yang intinya berupa konflik kekuasaan dengan istilah transaksi.”
Paham Neoliberalisme telah menyebar di Inggris dan Amerika Serikat, karena disana yang awalnya menganggap paham ini sebagai paham yang kejam dan mereka juga menganggap bahwa perekonomian harus dikelola demi masyarakat umum, bukan demi individu – individu, pada akhirnya terpaksa harus menerima paham Neoliberalisme karena akibat tingginya pengangguran dan jebakan penyatuan moneter Eropa. Selain itu, lama kelamaan hampir seluruh Negara Eropa mulai terpengaruh dan akhirnya menganut paham Neoliberalisme. Makin banyaknya Negara kesejahteraan dapat dilihat dari mulai diterapkannya kebijakan penurunan usia pensiun bagi pekerja sector publik di Jerman, Italia, dan Yunani.
Namun paham ini sangat ditentang keras oleh Gerakan Kiri yang dipelopori oleh Rusia, Kuba, dan Cina. Mereka menganggap bahwa paham Neoliberalis merupakan paham yang memberi peluang besar bagi berkembangnya para kaum kapitalis dan menambah penderitaan rakyat golongan kecil. Hal itu terjadi, karena peran Negara yang seharusnya menjadi kekuatan untuk mengatur khususnya perekonomian justru digantikan oleh pihak swasta. Selain itu, paham ini juga mengakibatkan hilangnya sebuah konsep yang disebut “Warga Negara” yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, menjadi konsep “Rakyat” yang berarti Negara tidak bertanggung jawab terhadap kesejahteraan penduduknya. Rakyat dapat hidup sehat, kaya, sejahtera, sedangkan di sisi lain rakyat juga dapat hidup miskin, dan menderita.
Pada akhirnya, Gerakan Kiri membuat sebuah paham baru yang mereka gunakan untuk melawan Neoliberalisme, yang mereka sebut sebagai paham NeoMarxisme. Mereka menggunakan paham ini untuk mengembalikan pemikiran marx kembali, karena yang disebut Marxisme adalah penafsiran yang dilakukan oleh Lenin dan Angels. Selain itu, mereka juga ingin mengembalikan peran pemerintah khususnya dalam perekonomian agar kesejahteraan rakyat yang sebelumnya hanya didominasi oleh kaum Kapitalis dapat mencapai kesetaraan.
Pengaruh Paham Neoliberalisme yang sangat mengagung – agungkan kebebasan juga menyebabkan tumbuhnya berbagai gerakan sosial yang mengatasnamakan kebebasan, gerakan ini dikenal sebagai Gerakan Sosial Baru. Gerakan ini merupakan gerakan yang lebih modern dari gerakan sosial yang sebelumnya seperti gerakan buruh, gerakan petani. Bedanya gerakan sosial lama memperjuangkan kelas, sedangkan gerakan sosial baru bisa lintas kelas tetapi memperjuangkan kepentingan yang sama seperti kesetaraan gender. Selain itu, gerakan sosial baru dipelopori oleh kaum intelektual karena kaum intelektual memiliki berbagai macam gagasan untuk perubahan yang lebih baik.

Daftar Pustaka
Deliarnov. 2005. Ekonomi Politik. Jakarta : Erlangga
Amin, Samir. 2010. Dunia yang Hendak Kita Wujudkan. Yogyakarta : Resist

Demokrasi Dalam Sejarah

1 Mar

Demokrasi telah ada sejak zaman yunani kuno (5SM) di kota polis dengan partisipasi rakyat secara langsung dalam persoalan pemerintahan. Pencetusan kata “demokrasi” tersebut dipimpin oleh Cleisthenes, warga Athena mendirikan negara yang umum dianggap sebagai negara demokrasi pertama pada tahun 508-507 SM. Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani “Demos” yang berarti rakyat dan “kratos” yang berarti sebuah kekuasaan, sehingga kata tersebut disatukan menjadi kata “Demokratia” yang berarti kekuasaan rakyat. Hal itu membuat Cleisthenes mendapat apresiasi dari rakyat dan disebut sebagai disebut sebagai “bapak demokrasi Athena“.

 Gagasan tentang demokrasi sempat menghilang dari peradaban sebagai akibat dari perlawanan Bangsa Eropa Barat yang mengalahkan pasukan Bangsa Romawi ketika memasuki masa Abad Pertengahan (6 – 14). Namun ajaran atau paham tentang demokrasi berhasil bangkit lagi, hal ini disebabkan oleh ketidaksenangan rakyat atas kesewenang-wenangan para penguasa terhadap rakyat jelata, rakyat menuntut persamaan hak di beberapa bidang seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, meningkatkan pemahaman agar menjadi lebih baik tentang konsep atau teori-teori tentang demokrasi yang mengarah pada prinsip Hak Asasi Manusia, dan banyak Negara-negara yang mengupayakan transisi menuju demokrasi adalah masyarakat-masyarakat yang kurang kaya, kurang stabil, dan mungkin semuanya dapat diklasifikasikan sebagai “periferal” atau “bergantung”.

Pengertian demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang semua warga Negara yang memiliki hak setara dalam mengambil keputusan, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung. Abraham Lincoln berpendapat bahwa system demokrasi adalah system pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ada dua bentuk dasar dari demokrasi, antara lain demokrasi langsung dan demokrasi perwalian. Karl Popper juga mendefinisikan demokrasi sebagai sesuatu yang berbeda dengan kediktatoran atau tirani, sehingga berfokus pada kesempatan bagi rakyat untuk mengendalikan para pemimpinnya dan menggulingkan mereka tanpa perlu melakukan revolusi.

Ada beberapa jenis demokrasi, tetapi hanya ada dua bentuk dasar. Keduanya menjelaskan cara seluruh rakyat menjalankan keinginannya. Bentuk demokrasi yang pertama adalah demokrasi langsung, yaitu semua warga negara berpartisipasi langsung dan aktif dalam pengambilan keputusan pemerintahan, contohnya adalah pemilihan ketua kelas. Di kebanyakan negara demokrasi modern, seluruh rakyat masih merupakan satu kekuasaan berdaulat namun kekuasaan politiknya dijalankan secara tidak langsung melalui perwakilan; ini disebut demokrasi perwakilan. Konsep demokrasi perwakilan muncul dari ide-ide dan institusi yang berkembang pada Abad Pertengahan EropaEra Pencerahan, dan Revolusi Amerika Serikat dan Perancis, contohnya penentuan atau pembuatan undang-undang melalui DPR.

Dalam pandangan demokrasi sebagai pandangan hidup, pada konsep Komunis – Marxis mengatakan bahwa demokrasi dipusatkan pada kepemilikan alat-alat produksi perekonomian. Selain itu, konsep Barat mengatakan bahwa demokrasi dianggap sebagai pandangan hidup yang lebih luas jangkauannya dan memiliki unsure pokok yang menggarisi antara pemerintah dengan rakyat. Unsure-unsur tersebut adalah :

  • Empirisme Rasional    : unsure yang didasarkan pada kepercayaan akal budi dan penerapannya tidak hanya pada alam fisik namun juga pada hubungan antar manusia.
  • Pementingan individu : unsure yang membedakan antara liberal dengan rezim otoriter atau totaliter.
  • Teori Instrumental tentang Negara : Negara sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk mencapai tujuan yang luhur dari mekanisme itu sendiri.
  • Teori Demokrasi          : unsure yang memandang prinsip kesukarelaan sebagai penggerak dan nafas kehidupan dalam masyarakat bebas.
  • Konsep hokum di balik hokum           : masyarakat dipandang sebagai himpunan berbagai perkumpulan sukarela dan Negara adalah badan yang diorganisasikan secara sukarela.

Jadi pada intinya, prinsip demokrasi merupakan instrumentasi dari semua aturan-aturan yang menyetarakan kedudukan rakyat dalam pemerintahan , baik dalam pemilihan umum maupun dalam menjalankan roda pemerintahan. Atau dalam kata lain demokrasi merupakan kondisi dimana masyarakat dapat mengontrol para penguasa dalam menjalankan pemerintahan.

 Daftar pustaka :

O’Donnell, Guilermo. 1992. Transisi Menuju Demokrasi. LP3ES

teknik pengumpulan data

5 Sep

Pengantar

Metode ilmiah pada hakikatnya merupakan penggabungan antara berpikir secara deduktif dengan induktif. dalam metode ilmiah terdapat hipotesis atau dugaan sementara atau hasil sementara yang perlu diuji kebenarannya berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan di lapangan. Data-data tersebut dikumpulkan dengan berbagai teknik tertentu yang sering disebut sebagai teknik pengumpulan data. Selanjutnya data tersebut dianalisis dan disimpulkan secara induktif sehingga dapat diketahui apakah hipotesis itu ditolak atau diketahui.

Dalam dunia ilmiah dikenal sebuah semboyan yang mengatakan bahwa “Yakinlah orang secara logis dengan kerangka teoritis dan kerangka berpikir, serta buktikanlah secara empiris dengan pengumpulan data yang relevan”. Di bawah ini akan dibicarakan berbagai teknik pengumpulan data. Namun perlu dicatat disini bahwa masing-masing teknik itu tidak lain hanyalah semacam “tongkat”. Pengumpulan data lebih merupakan seni karena instrumen utama dari pengumpulan data adalah ketrampilan mengolah naluri dan kepekaan. Sehingga seorang peneliti dan orang yang meneliti kepekaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Pembahasan

Teknik pengumpulan data terdiri atas pengamatan (observation), wawancara (interview), angket (questionary), dan dokumentasi (dokumentation) (Susanto 2006 : 125). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengumpulan data dilakukan, yaitu skala data yang diperoleh, sumber data, cara pengumpulan data, dan jumlah data. Berdasar sumbernya, data dapat dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan informasi yang dikumpulkan peneliti langsung dari sumbernya. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan teknik pengamatan, wawancara, dan angket. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengumpul data. Sedangkan data sekunder adalah informasi yang telah dikumpulkan pihak lain. Teknik pengumpulannya dengan menggunakan teknik dokumentasi begitupun peneliti yang hanya bertindak sebagai peneliti data.

  1. A.  Observasi

Sugiyono mengatakan bahwa observasi sebagai metode pengumpul data mempunyai ciri yang spesifik bila di bandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara atau kuesioner. Kalau wawancara  dan  kuesioner  selalu  berkomunikasi  dengan  orang , maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek yang lain. Rahardjo  &  Gudnanto  (2011: 47)  menyatakan  bahwa  observasi adalah kegiatan pengamatan (secara inderawi) yang direncanakan, sistematis dan hasilnya di catat serta dimaknai (diintepretasikan) dalam rangka memperoleh pemahaman tentang objek yang diamati.

Dari kedua pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa observasi atau pengamatan adalah suatu kegiatan mengamati perilaku siswa secara nampak dan hasilnya di catat serta di interpretasikan guna memperoleh pemahaman tentang objek yang di amati.

Observasi merupakan proses yang kompleks, yang tersusun dari proses biologis dan psikologis. Dalam menggunakan teknik observasi yang penting ialah mengandalkan pengamatan dan ingatan peneliti. Beberapa petunjuk sebelum mengadakan observasi adalah pelajari dulu observasi itu, pelajari tujuan penelitian, buat cara mencatat yang sistematis, batasi tingkat kategori yang sistematis, lakukan observasi secara cermat dan kritis, catat setiap gejala menurut kategorinya, periksa alat bantunya, waktu yg tersedia, hubungan dengan pihak yg diobservasi, intensitas dan ekstensi partisipasi.

Jenis-jenis observasi antara lain adalah partisipasi lawannya non partisipasi, sistematis lawannya non sistematis. Observasi partisipasi adalah jika observer terlibat langsung secara aktif pada objek yang diteliti, sedangkan observasi nonpartisipasi keadaanya berkebalikan. Observasi sistematis ialah observasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu kerangkanya. Kerangka itu memuat faktor-faktor yang akan diobservasi menurut kategorinya.(Susanto 2006 : 126-127)

Dalam penelitian kualitatif observasi atau pengamatan dapat di manfaatkan sebesar-besarnya dengan alasan sebagai berikut:

  1. Teknik pengamatan ini di dasarkan atas pengalaman secara langsung
  2. Teknik observasi atau pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya
  3. Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data
  4. Sering terjadi ada keraguan peneliti, jangan-jangan pada data yang di jaringnya ada yang menceng atau bias.
  5. Teknik pengamatan atau observasi memungkinkan peneliti memahami situasi-situasi yang rumit
  6. Dalam kasus-kasus tertentu di mana teknik komunikasi lainnya tidak memungkinkan, pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat (Moleong, 2002: 125-126).

Observasi sebagai metode pengumpul data juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini di sampaikan oleh Surya (dalam Rahardjo & Susilo, 2011: 50-51) yang semuanya dapat di jelaskan sebagai berikut:

  • Observasi merupakan teknik yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh berbagai data berbagai aspek tingkah laku.
  • Bagi observer, hal ini lebih meringankan dibandingkan dengan apabila mereka disuruh mengisi angket atau menjawab pertanyaan
  • Teknik observasi memungkinkan di lakukan pencatatan yang serempak dengan terjadinya gejala atau kejadian penting
  • Observasi dapat merupakan teknik untuk mencek data yang diperoleh dengan teknik lain seperti wawancara, angket, kuesioner, dan sosiometri
  • Dengan observasi, observer tidak memerlukan bahasa verbal sebagai alat bantu memperoleh data
  • Dengan observasi dapat diperoleh data, gejala atau kejadian yang sebenarnya dan langsung.

Selain beberapa keuntungan sebagaimana tersebut di atas, observasi juga memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut:

  • Banyak hal yang tidak dapat diungkap dengan observasi, misalnya kehidupan pribadi yang bersifat rahasia.
  • Apabila siswa mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, mungkin sekali mereka melakukan kegiatan tidak wajar lagi (perilakunya dibuat-buat)
  • Observasi banyak tergantung pada faktor-faktor yang tidak terkontrol
  • Faktor subjektivitas observer sulit dihindari.
  1. B.  Wawancara

Wawancara adalah teknik penelitian dengan cara tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Maksudnya ialah proses memperoleh data untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab tatap muka antara pewawancara dengan responden. Pewawancara disebut interviewer dan orang yang diwawancarai disebut interviewee (Susanto 2006 : 128 ).

Ciri umum dari kegiatan wawancara adalah :

  • Pewawancara dan responden belum pernah bertemu sebelumnya
  • Pewawancara selalu bertanya dan responden selalu menjawab pertanyaan dari pewawancara.
  • Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan pada suatu jawaban namun harus bersifat netral.
  • Pertanyaan harus selalu diikuti panduan yang telah disusun.

Jenis wawancara ada dua yaitu, wawancara tak terpimpin dan terpimpin (terstruktur). Wawancara tak terpimpin (tak terstruktur) adalah wawancara yang tidak terarah. Peneliti hanya menentukan topik dan tujuan yang ingin dicapai dari diadakannya wawancara itu, pertanyaan akan berkembang dalam proses wawancara itu sendiri. Keuntungannya cocok untuk penelitian pendahuluan, tidak memerlukan ketrampilan bertanya dan dapat memelihara kewajaran suasana. Kelemahannya tidak efisien waktu, biaya, dan tenaga.

Wawancara terpimpin (terstruktur) adalah tanya jawab terarah dan terfokus untuk mengumpulkan data-data yang relevan saja. Biasanya akan menggunakan pedoman wawancara yang memuat hal-hal yang akan ditanya secara terinci,sehubungan dengan pengumpulan informasi tentang topik penelitiannya. Keuntungan teknik ini adalah pertanyaan sistematis sehingga mudah diolah kembali, pemecahan masalah lebih mudah, memungkinkan analisis kuantitatif dan kualitatif, dan simpulan yang diperoleh lebih reliabel. Sedangkan kelemahannya adalah kesan-kesan seperti angket yang diucapkan, suasana menjadi kaku dan formal (Susanto 2006 : 131).

Beberapa teknik wawancara yang dapat dilakukan dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut (Cooper& Schindler, 2006:241-250):

v  Wawancara mendalam individu (individual depth interview/IDI)
Merupakan interaksi antara peneliti (pewawancara) dengan seseorang peserta tunggal. Wawancara mendalam individu biasanya membutuhkan waktu antara 20 menit (melalui telepon) sampai 2 jam (wawancara tatap muka), tergantung pada isu atau topik yang dibahas. Wawancara mendalam individu biasanya direkam (audio dan atau video) dan kemudian diterjemahkan sehingga memberikan rincian informasi yang kaya bagi peneliti. Informan yang dipilih sebagai peserta wawancara dipilih bukan karena opini mereka mewakili opini umum tetapi karena pengalaman serta sikap mereka mencerminkan keseluruhan cakupan isu yang sedang dipelajari. Selain itu informan yang diwawancara memiliki kemampuan verbal agar dapat memperkaya rincian informasi yang dinginkan peneliti.

v  Wawancara Kelompok adalah metode pengumpulan data dengan mengunakan lebih dari satu informan (peserta). Wawancara kelompok dapat dilakukan dengan beberapa ukuran kelompok:

  • Ø Dyad (2 oarang)
  • Ø Triad (3 orang)
  • Ø Kelompok mini (2 hingga 6 orang)
  • Ø Kelompok kecil (kelompok fokus 6 � 10 orang)
  • Ø Kelompok super (hingga 20 orang)

Dalam wawancara kelompok, jumlah dan komposisi kelompok ditentukan dengan mempertimbangkan:

  • Cakupan isu yang diteliti. Semakin lebar isu, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.
  • Jumlah segmen pasar yang berbeda: semakin banyak jumlahnya dan semakin besar perbedaannya, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.
  • Jumlah ide baru atau pemahaman yang diinginkan: semakin besar jumlah, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.
  • Tingkat perincian informasi: semakin rinci semakin banyak kelompok dibutuhkan.
  • Tingkat perbedaan geografis atau etnis pada sifat atau perilaku: semakin besar pengaruhnya, semakin banyak kelompok dibutuhkan.
  • Homogenitas kelompok: semakin tidak homogen, semakin banyak kelompok yang dibutuhkan.

Keuntungan teknik pengumpulan data dengan wawancara adalah (1)salah satu teknik terbaik untuk mendapatkan data pribadi, (2)tidak terbatas pada tingkat pendidikan asalkan informan dapat berbicara dengan baik, (3)dapat dijadikan pelengkap teknik pengumpulan data lainnya, dan (4)sebagai penguji terhadap data-data yang didapat dengan teknik pengumpulan data lainnya.

Namun teknik wawancara juga memiliki kelemahan yaitu (1)pembicara harus pandai dalam berbicara yang baik dan benar, (2)waktu, tenaga, biaya tidak efisien, (3)sangat tergantung pada ketersediaan interviewee, (4)proses wawancara sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan, dan (5)untuk obyek yang luas diperlukan interviewer yang banyak.

  1. C.  Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang dikirimkan kepada responden baik secara langsung atau tidak langsung (melalui pos atau perantara). Pertanyaan pada angket, bisa tertutup yang telah tersedia alternatif jawabannya dan bisa juga terbuka yang belum tersedia jawabannya, responden memformulasikan sendiri jawabannya. Angket yang dibuat harus dapat memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian dan informasi harus reliabel dan valid.

Kemukakan isi pertanyaan dalam kalimat yang mudah dijawab informan karena yang ditanyakan adalah hal-hal sudah melekat pada diri informan seperti :

  1. Identitas          : tempat tinggal, keluarga, asal daerah, dan lain-lain.
  2. Pengalaman     : aktivitas sehari-hari, pengalaman pekerjaan, dan lain-lain.
  3. Pengetahuan    : sesuatu yang paling diketahui tentang peristiwa, fakta, informasi tertentu, dan lain-lain.
  4. Pandangan      : pendapat, persepsi, pemikiran, dan lain-lain.
  5. Perasaan          : pengalaman menyenangkan, tidak menyenangkan, jengkel, optimis, dan lain-lain.
  6. Pengalaman penginderaan : melihat, mendengarkan tentang sesuatu peristiwa, dan lain-lain.

Angket atau kuesioner menurut Suharsimi Arikunto (2006: 152) dapat dibeda-bedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya. Angket dipandang dari cara menjawab, maka ada kuesioner terbuka, yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri dan kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Angket dipandang dari jawaban yang diberikan yaitu kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya dan kuesioner tidak langsung, jika responden menjawab tentang orang lain.

Angket dipandang dari bentuknya yaitu kuesioner pilihan ganda atau yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup, kuesioner isian atau yang dimaksud adalah koesioner terbuka, Check list atau sebuah daftar dimana responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom yang sesuai, Rating-scale (skala bertingkah), yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkat-tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju.

Kelebihan menggunakan teknik angket antara lain, dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirim melalui pos, biaya membuat angket relatif murah, tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri. Namun teknik ini memiliki kelemahan yaitu, Karena dikirim melalui pos, persentase pengembalian angket relatif rendah, Pertanyaan dalam angket dapat salah ditafsirkan dan tidak ada kesempatan mendapatkan penjelasan, Tidak dapat digunakan bagi responden yang kurang bisa membaca dan menulis, atau memiliki tingkat pendidikan yang kurang memadai.

  1. D.  Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen – dokumen. Dalam pengertian lain, dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya. Dokumen dapat dibedakan menjadi, dokumen primer yang merupakan dokumen ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa. Sebagai contoh adalah autobiografi. Dan juga dokumen sekunder, yang merupakan peristiwa dilaporkan pada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang ini. Contohnya adalah biografi. Data – data yang terkumpul dari teknik ini merupakan data sekunder berbeda dengan data yang terkumpul dari hasil observasi, wawancara, dan angket yang merupakan data primer.

Data sekunder juga bisa diperoleh dari BPS, departemen atau direktorat jenderal terkait. Penyusunan form dokumentasi perlu dilakukan, supaya data dari suatu sumber atau dokumen bisa dikumpulkan secara ‘terseleksi’ sesuai dengan keperluan peneliti. Hal itu dilakukan agar peneliti mudah untuk mencatat data tertentu yang diperlukan pada form yang telah disiapkan karena dengan itu pencatatan dokumen bisa lebih sistematis dan terfokus.

Keuntungan menggunakan teknik dokumentasi antara lain, Merupakan cara tepat untuk subjek penelitian yang sukar atau sulit dijangkau, takreaktif atau data yang diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpul data, cara yang terbaik untuk kasus yang bersifat longitudinal, khususnya yang menjangkau ke masa lalu, teknik ini memungkinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar karena biaya yang diperlukan relatif kecil.

Selain kelebihan, kelemahan dari teknik ini adalah Karena dokumen yang dibuat bukan untuk keperluan penelitian, data yang tersedia mungkin bias, Catatan tentang orang ternama mungkin disimpan dengan baik, tetapi catatan tentang orang biasa tidak selalu, bahkan tidak ada (tersedia secara selektif), Karena dokumen ditulis bukan untuk penelitian, mungkin data yang tersedia tidak lengkap / tidak tercatat pada dokumen, Format dokumen dapat bermacam-macam sehingga bisa mempersulit pengumpulan data dan sukar memberikan kode pada data.

  1. E.  Analisa Data Penelitian Kuantitatif

Untuk penelitian kuantitatif pengumpulan data pada umumnya menggunakan angket. Angket ini bisa langsung ditanyakan oleh pengumpul data, bisa juga menggunakan jasa pos, terakhir sekarang menggunakan email. Dalam penyusunan angket ini berkaitan erat dengan bentuk permasalahan penelitian, tujuan penelitian, variabel penelitian, defisiensi operasional variabel, indikator variabelm, model pertanyaan penelitian. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut.

Dalam analisis data kuantitatif, apa yang dimaksud dengan mudah dimengerti dan pola umum itu terwakili dalam bentuk simbol-simbol statistik, yang dikenal dengan istilah notasi, variasi, dan koefisien. Seperti rata-rata ( u = miu), jumlah (E = sigma), taraf signifikansi (a = alpha), koefisien korelasi (p = rho), dan sebagainya. Dalam menganalisa data penelitian strukturalistik (kuantitatif) hendaknya konsisten dengan paradigma, teori dan metode yang dipakai dalam penelitian. Ada perbedaan analisa data dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, analisa data yang dilakukan secara kronologis setelah data selesai dikumpulkan semua dan biasanya diolah dan dianalisis dengan secaracomputerized berdasarkan metode analisi data yang telah ditetapkan dalam desain penelitian.

  1. F.   Analisa Data Penelitian Kualitatif

Teknik pengumpulan data seperti ini berbeda dengan penelitian kuantitatif. Pengumpulan data pada teknik ini pada umumnya langsung mengadakan analisis saat begitu mendapatkan data. Oleh sebab itu, dalam laporan penelitian kualitatif pada umumnya laporan dan pembahasan menjadi satu. Perlu diingat bahwa banyak penelitian yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Bentuk penggabungan ini dilakukan pada saat melihat hubungan antarvariabel menggunakan model kuantitatif , sedangkan saat tahap analisis hasil menggunakan model  kualitatif.

Pada awal dekade 90-an telah berkembang satu cara observasi langsung model laboratorium. Caranya ialah mengalihkan indikator variabel ke dalam suatu lembar observasi. Fenomena yang diamati akan ditulis dengan ketat dalam bahasa yang ringkas dan padat, kemudian alternatif jawaban penelitian hanya tinggal memberi kode tertentu, jika peristiwa itu terjadi. Bila gagal atau tidak terjadi maka kode yang digunakan akan berbeda atau diganti.

Analisis data penelitian kuantitatif dilakukan diakhir pengumpulan data dengan menggunakan perhitungan statistik, sedang penelitian kualitatif analisis datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan cara ‘mengangsur atau menabung’ informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya sampai akhir memberi interpretasi (Hamidi, 2004 : 16 ).

Untuk lebih jelasnya analisis data ini dapt diungkapkan dengan tiga proses, yaitu, pertama, pada penelitian kualitatif, peneliti setiap harinya dapat memperoleh banyak data, baik dari wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Setelah itu dilakukan reduksi data yang berarti data hasil rekaman atau ‘catatan – catatan lapangan’ tersebut dirangkum, diseleksi lalu masing – masing dimasukkan pada kategori yang sama, fokus yang sama, dan permasalahan yang sama.

Proses kedua,  selain melakukan reduksi data juga diperlukan kegiatan display data, yaitu penyajian data ke dalam sejumlah matriks yang sesuai, misal matriks ukuran waktu yang menonjolkan kronologis suatu program, matriks jalinan pengaruh mempengaruhi antar faktor atau komponen dalam suatu kegiatan atau peristiwa, dan lain-lain. Proses ketiga , muara dari seluruh kegiatan analisis data terletak pada penggambaran atau penuturan tentang apa yang berhasil kita mengerti berkenaan dengan sesuatu masalah yang diteliti, dari sini lah lahir simpulan – simpulan yang bobotnya tergolong koprehensif mendalam.

Namun dalam ini semua tergantung pada kemampuan peneliti (1) merinci fokus permasalahan yang benar menjadi pusat perhatian untuk ditelaah secara mendalam, (2) melacak, mencatat, mengorganisasikan setiap data yang relevan untuk setiap permasalahan yang ditelaah, (3) menyatakan apa yang dimengertinya secara bulat tentang suatu masalah yang diteliti, terutama memakai “bahasa kualitatif” yang deskriptif dan interpretatif sifatnya (Miles & Huberman, 1992 : 15-21).

DAFTAR PUSTAKA

tugas osmaru

8 Agu

Nama    : Wahyu Rahardian Sofyan

Kelompok           : Integritas

Penjual minyak tanah eceran jadi pengelola SPBU

Suatu hari ada penjual bensin eceran bernama Pak Kalio ,ia telah bekerja menjadi penjual bensin eceran selama kurang lebih 10 tahun. Ia memiliki seorang istri dan 2 anak yang bersekolah di SD dan SMP. Pak Kalio hidup berkecukupan namun kadang-kadang ia juga kekurangan biaya untuk hidup dan sekolah anaknya ,karena tidak setiap hari ia bisa menjual seluruh minyak tanah ecerannya.

Pak Kalio adalah seorang yang jujur dalam bekerja ,dan slalu tabah dalam menghadapi segala cobaan yang ia terima. Para pembeli banyak yang menyukainya dan itu membuat minyak tanahnya selalu diserbu pembeli walau itu tidak setiap hari. Namun ada tetangganya yang iri dengannya ,namanya Pak Bambang. Ia juga penjual minyak tanah keliling seperti Pak Kalio namun ia seorang yang tak jujur, karena kadang-kadang ia mencampur minyak tanah dagangannya dengan solar.

Ia berniat untuk menjatuhkan usaha pak Kalio ,berbagai usaha telah ia coba namun gagal. Sampai akhirnya ia punya ide dengan mencuri minyak tanah milik pak Kalio dengan minyak tanah oplosan miliknya. Dan saat pak Kalio menjual minyak tanahnya ,banyak dari pembelinya protes karena baunya seperti campuran minyak tanah dengan solar. Mereka pun lalu mengeroyok pak Kalio sampai babak belur.

Sampai di rumah istrinya terkejut melihat wajah suaminya babak belur. Ia bertanya kenapa dan pak Kalio pun bercerita kejadian yg sebenarnya. Pak Kalio tetap tabah menghadapi cobaan ini dan ia tetap berdoa pada ALLAH agar ia diberi petunjuk agar apa yang pembelinya bilang tadi itu tidak benar karena ia merasa tak mencurangi pembelinya.

Doanya pun terjawab, saat ia hendak membeli obat di apotik ia melihat sebuah mobil terbakar dan pengemudinya berteriak sambil melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan. Ia pun segera menolong si pengemudi dan membantu memadamkan api yang telah membakar seluruh body mobil tersebut. Si pengemudi tersebut mengucapkan terima kasih dan memberikan kartu nama agar Pak Kalio menghubungi nomor tersebut esok hari.

Keesokan harinya Pak Kalio menghubungi nomor yang ada di kartu nama tersebut. Ia disuruh pergi ke alamat yang telah diberikan via telepon. Sesampainya di tempat ia terkejut karena alamat tersebut itu adalah alamat sebuah SPBU , ia segera menuju kantor SPBU untuk menemui orang tersebut. Setelah masuk ke kantor SPBU ,ia terkejut karena orang yang ia tolong adalah seorang pemilik SPBU tersebut yang bernama pak Darmo.

Mereka sempat berbincang-bincang sebentar, pak Darmo sempat menanyakan pekerjaan pak Kalio dan ia pun menjawab bahwa ia adalah seorang penjual minyak tanah eceran. Kebetulan pak Darmo akan pergi keluar negeri ,ia sempat berpikir bahwa ia ingin pak Kalio mengelola SPBU miliknya karena ia percaya bahwa pak Kalio adalah orang yang jujur, tabah, dan bertanggung jawab. Akhirnya ia mengatakan hal itu pada pak Kalio, pak Kalio pun terkejut dan bersujud syukur mendengar berita itu. Pak Kalio pun berterima kasih pada Pak Darmo yg telah memberi pekerjaan yang lebih mapan dari sebelumnya.

Pak Kalio pun sadar bahwa doanya telah dikabulkan oleh ALLAH dan ia sadar juga bahwa jujur dan tabah dalam menghadapi masalah itu memberinya sebuah keindahan suatu hari nanti. Semoga kita dapat mencontoh sifat yang baik yang dimiliki pak Kalio.