Fungsionalisme Struktural Taraf Menengah

14 Jun

Robert King Merton atau sering disebut Robert K Merton merupakan seorang murid Talcott Parsons ketika dia berkuliah di Havard. Merton merupakan murid setia dari Parsons, namun tidak semua yang dikatakan Parsons diterima begitu saja. Dia menambahkan atau melengkapi teori-teori Parsons dengan teori-teorinya sendiri. Salah satu hal yang membedakan antara Robert K Merton dengan Talcott Parsons adalah keputusannya meninggalkan usaha guna menyusun teori-teori besar yang bersifat umum, yang lebih suka disebutnya sebagai “Teori Taraf Menengah”. Teori ini merupakan hasil reduksi dari teori fungsionalisme struktural yang dipelopori oleh Talcott Parsons. Teori tersebut berisi asumsi-asumsi yang dapat ditarik hipotesanya kemudian diuji secara empiris dengan menggunakan data. Dalam pembangunan teori ini, Robert K. Merton berpegang pada dua teori besar yaitu Teori Suicide dari Emile Durkheim dan Teori The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism.

Meski Parsons dan Merton dikaitkan dengan fungsionalisme struktural, namun ada perbedaan penting antar keduanya yaitu penganjuran penciptaan teori besar dan luas cakupannya oleh Parsons, dengan penganjuran penciptaan teori kecil dan bertaraf menengah oleh Merton. Sebenarnya Merton dan beberapa muridnya (terutama Alvin Gouldner) dapat dipandang sebagai orang yang mendorong fung-sionalisme struktural yang lebih condong ke kiri secara politis, karena dalam hal ini Merton menyukai Teori Marxian.

Dalam Model Struktural Fungsional, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh Malinowski dan Radcliffe Bron. Pertama adalah postulat tentang kesatuan fungsional masyarakat yang berpendirian bahwa semua keyakinan dan praktik kultural sosial yang baku adalah fungsional untuk masyarakat sebagai satu kesatuan maupun untuk individu dan masyarakat. Postulat kedua adalah fungsionalisme universal yang berarti bahwa seluruh bentuk kultur sosial dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif, contohnya Nasionalisme fanatik yang dapat menjadi tidak fungsional dalam dunia yang me-ngembangkan senjata nuklir. Postulat ketiga adalah postulat tentang indispensability yang berargumen bahwa semua aspek masyarakat yang sudah baku tidak hanya mempunyai fungsi positif, tapi juga mencerminkan bagian yang sangat diperlukan untuk berfungsinya masyarakat sebagai satu kesatuan.

Selain mengembangkan Teori Taraf Menengah, Robert K Merton juga me-lengkapi analisanya dengan beberapa pokok pikiran baru yaitu tentang disfungsi, fungsi yang tampak (manifest function), fungsi tidak tampak (latent function), dan role-set (perangkat peran). Fungsionalisme di semua institusi banyak dikritik karena terdapat hal-hal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, contohnya dalam birokrasi, secara umum birokrasi berfungsi baik sekali dalam suatu masyarakat industri dimana seseorang ditempatkan sesuai bakat dan kemampuannya. Namun, Merton sadar bahwa akan ada bahaya jika ketaatan pada aturan birokrasi menjadi tujuan dan bukan alat untuk mencapai tujuan.

Pembedaan yang dibuat Merton tentang fungsi yang tampak dan tidak tampak lebih jauh memperjelas analisa fungsional dan mengimbangi teori fungsionalisme Parsons. Menurut Merton, fungsi didefinisikan sebagai. “konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem ter-tentu” (1949 / 1968:105).[1] Fungsi yang tampak adalah konsekuensi- konsekuensi atau akibat-akibat yang orang harapkan dari suatu tindakan sosial atau situasi sosial. Sedangkan fungsi yang tidak tampak adalah konsekuensi atau akibat yang tidak diharapkan ataupun tidak dimaksudkan.[2] Tetapi ada dua tipe lain akibat yang tidak diharapkan: “Disfungsional untuk sistem tertentu dari disfungsi tersembunyi” dan “yang tak relevan dengan sistem yang dipengaruhinya, baik fungsional maupun disfungsional..atau konsekuensi nonfungsionalnya” (Merton, 1949/1968:105).

Dalam mengembangkan perangkat peran, Merton mencetuskan sebuah kata yang disebut Perangkat Peran atau Role Set. Konsep ini merupakan hasil pe-ngembangan konsep Linton yang mengenalkan bahwa setiap status bukan saja me-miliki satu peran melainkan sejumlah peran. Sedangkan, pengertian perangkat peran itu sendiri adalah kelengkapan dari hubungan-hubungan berdasarkan peran yang dimiliki oleh orang karena menduduki status-status sosial khusus. Menurut Merton, status yang dimiliki setiap individu adalah bermacam-macam begitu pula peran yang dimiliki juga bermacam-macam. Peranan yang banyak itu dinamakan “role-set”, sedangkan status yang banyak itu dinamakan “status-set”. Sebagai seorang fung-sionalis, Merton melihat role-set sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan mempertahankan keteraturan tersebut.

Beberapa penganut teori sosiologi yang menyetujui bahwa kritik itu dapat dijustifikasikan dengan cara menentang terhadap bentuk kasar kaum fungsionalisme tradisional, akan mempertahankan revisi yang popular dari Robert K Merton tentang anggapan dasar dan konsep kaum fungsionalis meskipun revisinya tetap tidak mampu menjauhi kekurangan dan kebiasaan kaum fungsional.

 

Daftar Pustaka

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustaka

Zeitlin, Irvin. 1995. Memahami Kembali Sosilogi. Jogjakarta : UGM Press

 

[1] Dikutip dari George Ritzer, 2012, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana, hlm 139

[2] Dikutip dari Bernard Raho, 2007, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Prestasi Pustaka, hlm 65

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: